====

Terima Kasih

Atas waktu anda untuk mengunjungi website IMP3. kami berharap dengan adanya website ini dapat memberikan layanan lebih baik kepada anda dan sebagai penghubung antara kami dengan anda

Paparan Dataran Dilayah Pasieraja

Pasie Raja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Nanggröe Aceh Darussalam, Indonesia.

Program "Peusijuk Mahasiswa Baru" IMP3

Program tahunan ini dilakukan oleh IMP3 guna menyambut calon mahasiswa baru yang akan bergabung di Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Pasieraja.

Pantai di Pasieraja

Rentangan Lahan Hijau Yang Alami

This is default featured post 3 title

Rabu, 07 Desember 2011

Jangan Berkata Seandainya.

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Posting ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya (Tetap semangat dalam hal yang bermanfaat).
Kita masih melanjutkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”(HR. Muslim)
Jika Tidak Memperoleh Sesuai yang Diinginkan, Janganlah Katakan: “Seandainya Aku Lakukan Demikian dan Demikian, pasti ...
Lalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’” Maksudnya di sini adalah setelah engkau semangat dan giat melakukan sesuatu, juga engkau tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, serta engkau terus melakukan amalan tersebut hingga usai, namun ternyata hasil yang dicapai di luar keinginan, maka janganlah engkau katakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian”. Karena mengenai hasil adalah di luar kemampuanmu. Kamu memang sudah melaksanakan sesuatu prosedur yang diperintahkan, namun Allah pasti tidak terkalahkan dalam setiap putusan-Nya.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)
Misalnya: Seseorang ingin melakukan perjalanan jauh dalam rangka mengunjungi saudaranya. Namun di tengah jalan mobil yang dia gunakan rusak. Akhirnya dia pun kembali, lalu berkata: Seandainya aku tadi menggunakan mobil lain tentu tidak akan seperti ini. Kami katakan: Janganlah engkau katakan demikian. Engkau memang sudah giat melakukan amalan tersebut. Seandainya Allah menghendakimu sampai ke tempat tujuan, itu pun karena takdir-Nya. Akan tetapi saat ini, Allah tidak menghendakinya.
Kenapa Tidak Boleh Mengatakan “Seandainya Aku Melakukan Demikian dan Demikian, pasti ...”?
Jika seseorang telah mencurahkan seluruh usaha untuk melakukan suatu amalan, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai keinginan, maka pada saat ini hendaklah ia menyandarkan segala urusannya pada Allah karena hanya Dia-lah yang menakdirkan segalanya. Oleh karena itu, maksud hadits ini adalah: “Jika engkau telah mencurahkan seluruh usahamu, juga tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, lalu hasilnya tidak tercapai, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka nanti akan demikian dan demikian’.” Ketetapan mengenai hal ini telah ada, tidak mungkin hal tersebut dirubah kembali. Urusan tersebut telah ditetapkan di Lauh Al Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi 50.000 tahun yang lalu.
Apa hikmah tidak boleh mengatakan ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian’? Hal ini diterangkan dalam perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya, “Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” Maksudnya apa? Yaitu perkataan law (seandainya) dalam keadaan seperti ini akan membuka rasa was-was, sedih, timbul penyesalan, dan kegelisahan. Akibatnya karena rasa sedih semacam ini, engkau pun mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian”.
Apakah Semua Perkataan Seandainya Terlarang?
Kata ‘law (seandainya atau andaikata)’ biasa digunakan dalam beberapa keadaan dengan hukum yang berbeda-beda. Berikut rinciannya sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Qoulul Mufid (2/220-221), juga oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Bahjatul Qulub (hal. 28) dan ada beberapa contoh dari kami.
Pertama: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk memprotes syari’atdalam hal ini hukumnya haram. Contohnya adalah perkataan: “Seandainya judi itu halal, tentu kami sudah untung besar setiap harinya.”
Kedua: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk menentang takdirmaka hal ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak demam, tentu saya tidak akan kehilangan kesempatan yang bagus ini.”
Ketiga: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk penyesalan, ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak ketiduran, tentu saya tidak akan ketinggalan pesawat tersebut.”
Keempat: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk menjadikan takdir sebagai dalih untuk berbuat maksiat, maka hukumnya haram. Seperti perkataan orang-orang musyrik:
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ
Dan mereka berkata: "Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)".” (QS. Az Zukhruf: 20)
Kelima: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk berangan-angan, ini dihukumi sesuai dengan yang diangan-angankan karena terdapat kaedah bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan.
Jadi, apabila yang diangan-angankan adalah sesuatu yang jelek dan maksiat, maka kata andaikata dalam hal ini menjadi tercela dan pelakunya terkena dosa, walaupun dia tidak melakukan maksiat. Misalnya: “Seandainya saya kaya seperti si fulan, tentu setiap hari saya bisa berzina dengan gadis-gadis cantik dan elok.”
Namun, apabila yang dianggan-angankan adalah hal yang baik-baik atau dalam hal mendapatkan ilmu nafi’ (yang bermanfaat). Misalnya: “Seandainya saya punya banyak kitab, tentu saya akan lebih paham masalah agama”. Atau kalimat lain: “Seandainya saya punya banyak harta seperti si fulan, tentu saya akan memanfaatkan harta tersebut untuk banyak berderma.”
Keenam: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, maka ini hukumnya boleh. Contoh: “Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.”
Haruslah Engkau Yakin, Semua Ini Adalah Takdir Allah
Setelah kita berusaha melakukan yang bermanfaat, lalu tidak lupa memohon pertolongan pada Allah dan kita tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, janganlah sampai lisan ini mengatakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, ...” Oleh karena itu, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah”. Maksudnya adalah ini semua sudah menjadi takdir dan ketetapan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki, pasti Dia laksanakan.
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”(QS. Huud: 107)
Tidak ada seorang pun yang  berada di bawah kekuasaan-Nya mencegah kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti terjadi.
Akan tetapi, wajib engkau tahu bahwa Allah subhnahu wa ta’ala tidak melainkan sesuatu melainkan ada hikmah di balik itu yang tidak kita ketahui atau pun sebenarnya kita tahu. Yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan: 30)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kehendak Allah berkaitan dengan hikmah dan ilmu. Betapa banyak perkara yang terjadi pada seseorang, namun di balik itu ada akhir yang baik. Sebagaimana pula Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)
Banyak cerita mengenai hal ini. Ada sebuah kejadian kecelakaan pesawat terbang di Saudi Arabia yaitu penerbangan Riyadh-Jeddah. Penumpang yang akan menaiki pesawat terbang tersebut adalah lebih dari 300 penumpang. Salah satu pria yang akan menaiki pesawat tersebut pada saat itu sedang menunggu di ruang keberangkatan, namun ketika itu dia tertidur. Kemudian diumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan berangkat. Ketika pria yang tertidur itu terbangun, ternyata pintu pesawat telah tertutup kemudian pesawat pun  lepas landas. Akhirnya, pria tadi sangat sedih karena ketinggalan pesawat. Kenapa dia bisa ketinggalan pesawat? Namun, Allah memiliki ketetapan yaitu di tengah perjalanan ternyata pesawat tersebut mengalami kecelakaan. Subhanallah, laki-laki tersebut ternyat yang selamat. Awalnya dia sedih dan tidak suka karena ketinggalan pesawat. Namun ternyata hal itu baik baginya.
Oleh karena itu –saudaraku-, jika engkau telah mencurahkan seluruh usaha dan engkau meminta pertolongan pada Allah, namun hasil yang dicapai tidak seperti yang engkau inginkan, janganlah engkau merasa sedih hati. Janganlah engkau mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, pasti akan ...”. Jika engkau mengatakan seperti ini, maka akan terbukalah pintu setan. Engkau pun akan merasa was-was, gelisah, sedih, dan tidak bahagia. Yang sudah terjadi memang sudah terjadi. Tugasmu hanyalah memasrahkan semua urusanmu pada Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, katakanlah, “Apa yang Allah kehendaki, pasti terlaksana”.
Mengambil Sebab Bukan Berarti Tidak Tawakkal
Hadits ini juga menunjukkan beriman kepada takdir dan ketetapan Allah, di samping itu kita harus melakukan usaha (sebab). Dua hal inilah yang merupakan kaedah pokok yang ditunjukkan dalam dalil yang amat banyak dalam Al Kitab dan As Sunnah. Keadaan agama seseorang tidaklah sempurna melainkan dengan meyakini takdir dan melakukan usaha. Segala macam perkara pun tidak akan sempurna melainkan dengan dua hal ini. Karena maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, ...”, ini maksudnya adalah perintah untuk melakukan usaha baik dalam urusan dunia maupun agama.
Dalil yang lain yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)
Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:
Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.” (Darul Falihin, 1/335)
Al Munawi juga mengatakan,”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu  mengatakan,”Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan,”Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (LihatUmdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69)
Tak Pernah Usai
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Seandainya, kalau kita menelusuri terus kandungan hadits ini, niscaya kita akan dapati faedah yang amat banyak. Namun itulah manusia, terkadang mereka melanggar wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga ini.
Pertama, sebagian kita kurang bersemangat melakukan hal yang bermanfaat baginya, malah semangat jika melakukan hal yang berbahaya atau hal yang tidak ada bahaya dan manfaat. Siang dan malam hanya dia lewati dengan sia-sia, tanpa faedah, dan sirna begitu saja.
Kedua, jika dia memang melakukan hal yang bermanfaat, lalu dia tidak memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan, akhirnya dia akan menyesal. Perlahan-lahan keluar dari lisannya, “Seandainya saya melakukan ini dan ini, pasti akan ...”. Sikap semacam ini tidaklah tepat. Selama seseorang sudah berusaha melakukan yang bermanfaat baginya dan tidak lupa meminta kemudahan dari Allah untuk menyelesaikan urusan tersebut, maka serahkanlah semuanya pada Allah.”  [kurnia rahman]

Sabtu, 03 Desember 2011

Kenakalan Remaja

Pada masa remaja, terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar remaja. Hal-hal yang terakhir ini biasanya terjadi karena banyak faktor, tetapi berdasarkan penelitian, jumlah yang terbesar adalah karena "tingginya" rasa solidaritas antar teman, pengakuan kelompok, atau ajang penunjukkan identitas diri. Masalah akan timbul pada saat remaja salah memilih arah dalam berkelompok.
Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan pernyataan diatas, membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.
Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group. Demi kawan yang menjadi anggota kelompok ini, remaja bisa melakukan dan mengorbankan apa pun, dengan satu tujuan, Solidaritas. Geng, menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila bisa mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri.

Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau tekanan-tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar, melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran, merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.

Secara individual, remaja sering merasa tidak nyaman dalam melakukan apa yang dituntutkan pada dirinya. Namun, karena besarnya tekanan atau besarnya keinginan untuk diakui, ketidak berdayaan untuk meninggalkan kelompok, dan ketidak mampuan untuk mengatakan "tidak", membuat segala tuntutan yang diberikan kelompok secara terpaksa dilakukan. Lama kelamaan prilaku ini menjadi kebiasaan, dan melekat sebagai suatu karakter yang diwujudkan dalam berbagai prilaku negatif.
Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh dengan "energi negatif" seperti yang terurai di atas, segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif. Sebaliknya, jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan "energi positif", yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.
Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatar belakangi apa pun yang remaja lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya ini menjadi sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi kata-kata "kenakalan remaja" yang dialamatkan kepada remaja. Lembaga pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin banyak orang sukses berusia muda. Remaja juga tidak perlu lagi merasakan peer pressure, yang bisa membuat mereka stres.
Secara teori diatas, remaja akan menjadi pribadi yang diinginkan masyarakat. Tetapi tentu saja hal ini tidak dapat hanya dibebankan pada kelompok ataupun geng yang dimiliki remaja. Karena remaja merupakan individu yang bebas dan masing-masing tentu memiliki keunikan karakter bawaan dari keluarga. Banyak faktor yang juga dapat memicu hal buruk terjadi pada remaja.
Seperti yang telah diuraikan diatas, kelompok remaja merupakan sekelompok remaja dengan nilai, keinginan dan nasib yang sama. Contoh, banyak sorotan yang dilakukan publik terhadap kelompok remaja yang merupakan kumpulan anak dari keluarga broken home. Kekerasan yang telah mereka alami sejak masa kecil, trauma mendalam dari perpecahan keluarga, akan kembali menjadi pencetus kenakalan dan kebrutalan remaja. Tetapi, masa remaja memang merupakan masa dimana seseorang belajar bersosialisasi dengan sebayanya secara lebih mendalam dan dengan itu pula mereka mendapatkan jati diri dari apa yang mereka inginkan.
Hingga, terlepas dari itu semua, remaja merupakan masa yang indah dalam hidup manusia, dan dalam masa yang akan datang, akan menjadikan masa remaja merupakan tempat untuk memacu landasan dalam menggapai kedewasaan. [Kurnia Rahman/wong koer]

Rabu, 29 Juni 2011

Pengumuman SNMPTN 2011


    klik disini
  •  PERHATIAN
  • Javascript browser harus diaktifkan.
  • Klik di sini untuk melihat SK Pengumuman hasil SNMPTN 2011 jalur Ujian Tertulis.
  • Jika meninggalkan komputer atau diganti oleh pengguna lain, pastikan anda sudah keluar dengan cara menekan tombol "Keluar" yang tersedia
  • Apabila ada hal-hal yang kurang jelas tentang pendaftaran online ini, dapat menghubungi Help Desk SNMPTN 2011 di alamat http://halo.snmptn.ac.id atau nomor telepon 0804-1-450-450

Minggu, 12 Juni 2011

Selasa, 17 Mei 2011

ke-esaan ALLAH

Di tahun 70-an mendiang cak Nur mengemukakan gagasan bahwa arti laa ilaha illallah adalah tiada tuhan melainkan Tuhan. Penekanan utama gagasan ini adalah mengartikan ilah dengan tuhan (t kecil) dan Allah adalah Tuhan (T besar). Tak pelak penerjemahan ini mengundang reaksi keras di kalangan ulama’ senior.
Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa hanya gitu saja kok sewot?
Persoalan penerjemahan itu bukan soal yang sederhana, meskipun tampaknya remeh temeh. Sebagai contoh, pelacur itu artinya pezina. Ketika kata itu diartikan dengan pekerja seks komersial, akan memberikan kesan positif secara sosial, karena berstatus sebagai pekerja. Dan bisa jadi suatu saat nanti akan ada organisasi pekerja seks komersial secara legal, sebagaimana pekerja-pekerja yang lain telah membuat serikat pekerja. Akibat lain dari istilah tersebut adalah orang yang melakukan zina dengan pacarnya dan tidak meminta upah tidak dikatakan sebagai pelacur. Dari contoh ini jelas, bahwa penerjemahan yang keliru membawa dampak yang cukup serius.
Kembali kepada persoalan tuhan. Ada dua kata dalam bahasa Arab yang diartikan dengan kata tuhan, yakni kata rabb dan kata ilah. Dua kata ini memiliki makna yang berbeda, tetapi mengapa arti ke dalam bahasa Indonesia cuma satu? Itulah keterbatasan bahasa, sehingga ketika bahasa tidak mampu lagi menerjemahkan sebuah kata, maka sebaiknya kata itu tidak diterjemahkan, tetapi dijelaskan saja maknanya.
Makna kata Rabb adalah Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang Memiliki seluruh alam dan Mengaturnya. Sedangkan makna kata ilah adalah sesuatu yang diagungkan, disembah, dicintai dan ditaati.
Kata rabb menekankan pada pengakuan tindakan Rabb. Maknanya, mengakui ketuhanan Allah dalam statusnya sebagai rabb ini adalah mengakui keesaan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Allah, seperti yang tercantum di atas; yakni mencipta, memberi rizki,  menghidupkan, mematikan, mengatur dan lain-lainnya.
Sementara itu kata ilah menekankan pada tindakan manusia. Sehingga pengakuan terhadap ketuhanan Allah dalam statusnya sebagai ilah ini harus diwujudkan dalam bentuk tindakan.
Jika kita memperhatikan manusia di sekitar kita saat ini, pasti kita akan melihat bahwa pada umumnya manusia mengakui Allah sebagai Pencipta alam semesta, Pengatur, Pemberi rizki, Pemilik alam dan seterusnya. Namun pengakuan itu tidak secara menggerakkan hati untuk melakukan peribadatan kepada-Nya. Ini baru mengakui Allah sebagai Tuhan dalam status sebagai Rabb, belum mengakui ketuhanan Allah dalam statusnya sebagai ilah.
Bahkan, sepanjang sejarahnya, manusia selalu mengakui Allah sebagai Rabb, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur’an tentang suku Quraisy yang musyrik itu,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”(Yunus:31)
Ayat tersebut dengan sangat jelas menyatakan bahwa kaum Quraisy masih mengakui Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Sayang, disamping mengakui Allah sebagai tuhan pengatur alam semesta mereka beribadah dan berdo’a selain kepada Allah juga beribadah dan berdo’a kepada patung-patung. Tindakan inilah yang menyebabkan mereka dinilai sebagai orang musyrik, menduakan Allah dengan yang lain dalam hal ibadah.
Meskipun menduakan Allah, atau menyekutukan Allah, namun pengakuan bahwa Allah itu Tuhan dalam makna Rabb tidak akan hilang dari lubuk hati manusia. Sebab Allah talah menciptakan manusia dengan fitrah mengakui ketuhanan Allah, sebagai Rabb. Perhatikan firman Allah;
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), (al-A’raf:172)
Lalu bagaimana dengan orang komunis yang menyatakan bahwa tuhan adalah candu? Bukankah mereka itu menolak adanya Pencipta alam semesta?
Ya! Lisan mereka memang mengatakan demikian. Mereka mengatakan demikian akrena kesombongan logika mereka. Tetapi itu hanya ada di lisan mereka, sedangkan hati kecil mereka sesungguhnya tetap mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini adalah Allah. Perhatikan firman Allah tentang kaum Dahriyyah (yang menolak adanya Allah).
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (an-Naml:14)
Ayat di atas menegaskan bahwa orang yang mengingkari adanya Tuhan, sebabnya adalah karena gengsi dan sombong belaka. Fir’aun yang mengatakan,
Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (an-Nazi’at:24),
ternyata pada akhir hidupnya sudah berusaha untuk mengucapkan laa ilaaha illallah. Namun belum sampai lengkap mengucap kalimat itu ia pun sudah mati.
Demikian juga ada kisah yang menyebutkan bahwa Karl Marx ketika akan mati minta didoakan oleh seorang pastur. Jika demikian, maka sesungguhnya dibalik kesombongan Marx itu dalam hati kecilnya yang paling dalam masih ada keyakinan tentang tuhan. Kalau tidak percaya sama sekali, untuk apa ia minta dido’akan?
Keyakinan adanya Tuhan Yang Menciptakan dan mengatur itu begitu kuat terpateri di dalam hati, karena yang memberikan adalah Allah sendiri. Renungkan kembali (al-A’raf;172). Informasi yang kita terima dari Allah dalam surat al-A’raf tersebut adalah, bahwa manusia ketika masih ada di alam ruh pernah ditanya oleh Allah tentang siapa Rabbnya, dan saat itu setiap manusia sudah menyaksikan bahwa Allah adalah rabbnya. Sayangnya ketika terlahir dan melihat keindahan dunia banyak di antara mereka yang lupa, apalagi kalau orang tuanya tidak mengingatkan akan persaksiannya itu, atau bahkan mengajarkan ajaran yang lain, sebagaimana sabda Rasul,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tidaklah yang terlahir itu melainkan dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR Bukhari dan Muslim).
Fitrah pada hadis tersebut maknanya adalah Islam. Karena itu wajar, apabila manusia yang menolak eksistensi tuhan sebenarnya hanyalah pengakuan lisan yang didasarkan kepada kesombongan.
Tetapi perlu juga ditandaskan bahwa pengakuan bahwa Tuhan Yang maha pencipta itu esa saja belum menjamin seseorang dianggap sebagai muslim. Orang yang berketuhanan yang maha esa tidak dikatakan mukmin. Konteks kalimat tersebut menyiratkan bahwa tuhan berarti rabb. Mengakui Allah sebagai rabb semesta alam saja tidak cukup bagi seseorang untuk dianggap sebagai muslim.
Ini bukan mengada-ada. Iblis, tentu sangat percaya bahwa Yang menghidupkan dan mematikan adalah Allah. Buktinya Iblis meminta kepada Allah agar dibiarkan hidup sampai akhir jaman,
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ () قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.(al-A’raf:14-15).
Di dalam ayat ini Allah menginformasikan bahwa Iblis memohon kepada Allah untuk ditangguhkan kematiannya. Makna yang terkandung di dalamnya, Iblis meyakini adanya Allah, mengakui kekuasaan Allah, meyakini bahwa Allah lah yang menghidupkan dan mematikan. Dengan keyakinan seperti itu, iblis bukanlah seorang muslim, bahwkan di ayat yang lain dikatakan bahwa Iblis itu kafir,
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (al-Baqarah:34).
Nah, mengaku Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam statusnya sebagai rabb saja tidak cukup. Pengesaan Allah dalam tindakan-tindakanNya, menuntut kita untuk mengesakan-Nya dengan perbuatan kita, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (al-Baqarah:21)
Di dalam ayat di atas kita diperintahkan untuk menyembah Rabb kita. Maknanya, kalau soal Rabb semua manusia sudah meyakini, tetapi meyakini belum tentu menyembahNya. Karena itulah yang diperintahkan bukan meyakini rabb, tetapi menyembah rabb. Dengan menyembah Rabb itulah seorang manusia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Penyembahan tuhan itulah inti tujuan penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Dzariyat:56).
Untuk mengingatkan manusia akan tugasnya hidup di dunia inilah Allah mengutus para Rasul ke tengah-tengah manusia. Firman Allah,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,(an-Nahl:36)
Nah, sekarang, Sudahkah Anda benar-benar mengesakan Allah?

Senin, 16 Mei 2011

INFO SNMPTN

Jalur Tapaktuan-Pasie Raja Ambles Lagi

ACEH SELATAN-Pasieraja: Jalur nasional Tapaktuan-Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, sejak dua pekan terakhir ambles lagi. Ambles terjadi di kawasan pengunungan Jambo Hatta sekitar 5 km dari pusat kota Tapaktuan, Ibu Kota Aceh Selatan.

Itu adalah jalur kawasan pantai barat selatan Aceh yang menghubungkan Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dengan Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam. Di lintasan itu merupakan kawasan rawan ambles dan longsor karena kontruksi tanah gembur yang diapit jurang tepi laut Samudera Hindia dan tebing gunung terjal.

Padahal dua bulan lalu di lokasi tersebut telah dibangun tanggul beton penahan badan jalan untuk memperbaiki kembali jalan yang sebelumnya juga terjadi longsor. Hingga kini, kondisi jalan masih sangat parah dan telah dipasang tali garis rawan bahaya.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, saat kunjungan kerja ke wilayah pantai barat selatan Aceh, langsung mematau lokasi yang ambles itu. Dia meminta dinas PU Aceh segera menangani kerusakan tersebut agar tidak sampai terhenti arus transportasi.

Pantauan Media Indonesia akhir pekan lalu, kondisi badan jalan dari sebelumnya berkisar 6 meter kini tinggal sekitar tiga meter. Selebihnya telah ambles ke jurang tepi laut.

Minggu, 15 Mei 2011

Semangat Berjuang..!!

Setiap orang yang lebih dewasa dan memiliki banyak pengalaman, secara tidak langsung akan memberikan contoh kepada yang lebih muda dan belum berpengalaman, melalui gerak, sikap dan tingkah lakunya.  Sehingga, apa saja yang diperbuat oleh seorang yang dianggap lebih dewasa (dalam segi usia dan pengalaman) akan selalu diperhatikan oleh mereka yang lebih muda, sebagai acuan baginya dalam bersikap. Maka, apabila seorang yang lebih dewasa mengharapkan generasi mudanya bersikap sopan, baik dan berbuat terpuji, maka merekalah yang terlebih dahulu mempraktekkannya dalam keseharian.  Sehingga apa yang selama ini diharapkannya dapat menjadi kenyataan.

Apabila generasi terdahulu (pejuang) sebelum kita telah melakukan perjuangan dengan sepenuh hati dalam menegakkan negara ini, berarti beliau telah memberikan contoh kepada kita generasi masa kini (penerus perjuangan) tentang perjuangan itu sendiri.  Hingga akhirnya beliau rela berkorban harta, jiwa dan keluarga yang sangat dicintai dan di sayangi, demi bangsa ini.  Lalu sebagai generasi penerus perjuangan, maka telah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk meneruskan jejak-jejak yang telah ada itu.  Berjuang dengan segenap kemampuan yang kita miliki, tanpa pernah kenal menyerah, lelah dan putus asa.  Karena para pejuang terdahulu tidak mencontohkan seperti itu.  Dengan bekal semangat, berjuang keras, berjuang cerdas dan berjuang ikhlas, akhirnya bangsa ini bisa terbebas dari segala bentuk tekanan penjajah.  Dan sudah sepatutnya pula, kita sebagai generasi penerus perjuangan, melakukan hal yang sama, dengan bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas dalam setiap aktivitas yang sedang kita lakukan dalam melanjutkan perjuangan para pejuang.  Karena, kita semua adalah pejuang-pejuang bangsa yang bisa diandalkan.  Dengan semangat rela berkorban saat jauh dari orangtua, kekurangan bekal di perjalanan, kekurangan harta benda (karena memang belum bisa menghasilkan harta benda… :d ), maupun kekurangan pengalaman.  Sehingga semua kekurangan-kekurangan itu hendaknya menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk terus memunculkan semangat dan motivasi dari dalam diri untuk berupaya semaksimal mungkin dalam berjuang.

Bila kita seorang pelajar, maka mari kita tunjukkan semangat yang tinggi dalam berjuang dengan terus belajar keras, belajar cerdas dan belajar ikhlas, demi mendapatkan kemenangan pada akhirnya. Dan bisa dibuktikan dengan menyandang nilai yang bagus dan memuaskan di akhir masa pembelajaran pada tingkat pendidikan formal tersebut.  Sehingga hasil perjuangan itu bisa kembali dinikmati oleh semua orang, terutama orangtua yang sangat mencintai dan menyayangi, sahabat yang selalu memotivasi, dan siapa saja yang telah berkorban materi maupun non materi untuk kita.

Berbekal semangat dari para inspirator, motivasi dari para motivator, doa dari orangtua tercinta, dukungan dari sahabat-sahabat terkasih, dan belas kasih dariNya, semoga akhirnya kita mampu melewati semua rintangan yang ada, menjadikannya sebagai senjata untuk terus maju dalam medan perjuangan tanpa kenal lelah.  Saat rintangan terasa begitu kuat, berat dan seakan tak terpikul oleh fikiran yang masih belum begitu sempurna ini, saat semakin kuat halangan menghadang, semoga semakin kuat pula yakin dan percaya kita, bahwa dengan semua itu, senjata yang kita miliki semakin bertambah dan kokoh kekuatannya.  Itulah semangat yang harus selalu kita tumbuhkan dari dalam diri, agar terus bisa bangkit dan kembali bangkit saat mulai lelah menghadapi sengitnya sebuah pertempuran.

Berbagi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites